another part

Monday, November 17, 2014

Permasalahan Sunmor UGM (perspektif pedagang)

Sunday Morning atau lebih dikenal dengan Sunmor sudah ada sejak krisis moneter 1998. Adanya Sunmor ini bentuk kepedulian UGM sebagai kampus kerakyatan kepada rakyat. Pada mulanya, Sunmor terletak di boulevard UGM dan mayoritas pedagangnya adalah mahasiswa. Kemudian, pihak UGM merelokasi Sunmor ke Jalan Olahraga. Relokasi ini dilakukan secara sepihak, namun para pedagang tidak protes karena dijanjikan akan dibangun taman khusus. Sekarang, setelah kontrak antara UGM dan pedagang Sunmor habis, para pedagang diusir dan direlokasi secara paksa ke lingkar timur (Karang Malang) dengan alasan akan dibangun Wisdom Park di depan D3 FEB UGM.
            Relokasi Sunmor ke kawasan Karang Malang oleh pihak UGM, dinilai tidak mempertimbangkan nasib para pedagang Sunmor. Tiba-tiba setelah kontrak antara UGM dan para pedagang habis, pihak UGM langsung mengeluarkan kebijakan relokasi tanpa adanya musyawarah dengan pedagang. Kebijakan relokasi itu pada awalnya hanya disampaikan lewat selebaran-selebaran. Tentu saja hal tersebut membuat para pedagang jengkel. Apalagi alasan direlokasikannya mereka tidak jelas. Menurut pedagang, seharusnya pengambilan keputusan oleh pihak UGM didahului dengan adanya musyawarah, sosialisasi dan doktrin. Tapi yang dilakukan oleh pihak UGM hanya sosialisasi-sosialisasi tanpa musyawarah mencari solusi dan terkesan dipaksakan. Baru setelah konflik Sunmor ter-blow up ke media, pihak UGM kelabakan dan mengajak dialog para pedagang.
           Menurut para pedagang, pemindahan Sunmor ke jalan lingkar timur dinilai tidak strategis. Sebaliknya, pihak UGM berpendapat bahwa relokasi Sunmor ke jalan lingkar timur lebih strategis. Karena, dengan dibangunnya Wisdom Park, maka pengunjung akan lebih banyak. Dengan peningkatan jumlah pengunjung, maka pembeli di Sunmor akan meningkat. Meskipun begitu, pihak UGM tidak memikirkan faktor lainnya. Dengan direlokasinya Sunmor ke jalan lingkar timur yang sebagian kawasannya masuk ke daerah Karang Malang, maka pemegang kekuasaannya akan berbeda dengan yang sebelumnya. Berbedanya pemegang kekuasaan, menyebabkan perbedaan kebijakan yang pada akhirnya membuat para pedagang rugi. Sebagai contoh tarif retribusi yang baru, penataan yang baru, hubungan dengan warga Karang Malang dan belum lagi pungutan-pungutan liar karena adanya bentrok kepemilikan lahan. Pada akhirnya, bagi para pedagang, relokasi Sunmor juga mengakibatkan relokasi kehidupan.
           Sampai saat ini, mediasi antara pihak UGM dengan para pedagang Sunmor UGM belum menemukan titik temu. UGM sebagai kampus kerakyatan, dinilai semakin jauh dari rakyat karena kebijakan yang dikeluarkannya. Dengan direlokasinya Sunmor ke jalan lingkar timur, UGM hanya memberikan kontrak satu tahun dengan para pedagang. Padahal jalan lingkar timur tidak sepenuhnya milik UGM tetapi juga milik Pemda Sleman. Sehingga tidak ada jaminan ketika ada penggusuran oleh Satpol PP. Ketika masa kontrak habis dalam satu tahun, mau tidak mau para pedagang harus pindah lagi. Kecuali kalau pihak UGM mau memberikan kontrak selama 10 tahun, sehingga ada yang bertanggung jawab terhadap para pedagang Sunmor jika sewaktu-waktu ada penggusuran oleh Pemda Sleman.

        Relokasi tanpa didahului dengan dialog yang dalam dan musyawarah mufakat pada akhirnya hanya akan berujung pada penggusuran paksa. Bahkan dari pihak UGM seolah-olah menempuh cara ekstrim dengan memasang portal dan menggembok bahkan mengelasnya. Menurut pedagang, permasalahan Sunmor sebenarnya hanya sepele, yaitu kemacetan lalu lintas yang menyebabkan sulitnya akses dan kebersihan. Jika permasalahannya hanya sebatas itu, dari pihak pedagang siap ditataguna untuk mengatasi permasalahan tersebut. Para pedagang Sunmor, terlepas dari perbedaan cara pandang terhadap permasalahan, hanya ingin diperlakukan secara adil. Jika permasalahan Sunmor yang menyangkut rakyat banyak bisa diatasi dengan baik, maka citra UGM sebagai kampus kerakyatan tidak akan ternodai.

2 comments: