another part

Friday, April 13, 2012

I've Learned

Rasa sakitku berawal dari 10 Maret 2009. Atau mungkin sebelumnya. Dan aku bertahan sampai beberapa bulan kemudian. Mungkin sampai sekitar bulan September atau Oktober. Entahlah, aku tidak begitu ingat. Yang pasti rasa sakit itu ada. Dan sangat. Hingga membuatku takut. Bahkan sampai sekarang. Aku takut orang yang aku sayangi meninggalkanku untuk orang lain.

Waktu itu umurku 15. Dan dia, sebut saja Alfa, berumur 16 tahun. Kami menjalin hubungan yang kata orang jaman sekarang disebut pacaran, sejak 10 Maret 2008. Aku menyayanginya dan dia menyayangiku. Lebih dari apapun. Kurasa waktu itu aku begitu buta. Buta karena cintaku padanya yang teramat sangat besar. Tapi itu dulu. Bukan sekarang. Benar kata pepatah, orang yang paling kau cintai kelak akan menjadi orang yang kau benci, begitu juga sebaliknya. Dan itu yang terjadi padaku. Aku begitu membencinya. Lebih tepatnya tak punya perasaan apapun kepadanya. Karena aku tak mau karena kebencianku, suatu saat hal itu akan menjadi bumerang bagiku.

Ceritaku bukan tentang nostalgia indahku dengan Alfa. Bukan juga tentang hari-hari yang kujalani bersama Alfa. Tapi, ceritaku tentang perjuanganku move on dari rasa sakit karena ditinggalkan oleh Alfa. Ya, Alfa berpaling dariku. Untuk orang lain. Dan ia memberi tahuku, tepat setahun kami jadian.

Waktu itu aku sedang bersama Alfa. Merayakan hari jadi kami yang pertama. Aku membicarakan dan bercerita banyak hal bersamanya. Tapi tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku dan raut mukanya berubah. Ada yang berdesir di dadaku. Ya Allah, aku takut.. Aku benar-benar takut...

'Sayang, aku mau tanya?' kata Alfa.
'Apa?' aku benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi.
'Kalo misalnya aku bukan cuma milik kamu gimana?' aku shock ngedengernya.
'Siapa? Rahmi?' tembakku.
'Iya..' dia mengangguk tanpa merasa bersalah.
'Owh, yaudah, kalo gitu aku yang bakal pergi' kataku.
'Jangan! Aku mau sayang...' katanya.
'Tapi aku ggamau diduain!' nadaku meninggi.
'Iya...' katanya.
'Iya apa?' aku mulai memburunya.
'Aku putusin Rahmi.' kata Alfa pada akhirnya.
'Kenapa kamu tega sama aku?'
'Maaf, tapi dia gangguin aku..'
'Trus? Kenapa kamu tergoda? Aku kurang gimana sih sama kamu?'
'Maaf..'

Alfa buru-buru membuka handphonenya dan menelpon Rahmi. Saat itu juga Alfa mutusin Rahmi. Dan Rahmi mengiyakan. Aku mendengar karena Alfa me-loudspeaker-kan suaranya. Oke, aku percaya sama Alfa. Toh, setiap orang layak diberi kesempatan kedua kan? Apalagi saat itu aku benar-benar masih sangat menyayangi Alfa. Rahmi? Ah, masa bodoh dengan gadis itu.

Beberapa jam setelah bertemu Alfa, aku dan dia kembali ke asrama. Yah, sudah tak memungkinkan lagi untuk bertemu. Kami berdua satu sekolah. Beda asrama. Tentu saja. Dan karena alasan tertentu, kami berstatus tunangan saat itu. Benar-benar bertunangan. Dan sesekolah tentu saja tau. Siapa sih yang gga tau aku dan Alfa? Jika waktu itu kau tanya pada seluruh warga sekolah perihal aku dan Alfa, tentu saja mereka akan menjawab bahwa mereka tidak hanya tau, tapi hafal betul cerita kami. Aku dan Alfa adalah pasangan yang paling serasi waktu itu. Kata orang.

Sekali lagi, ceritaku ini tidak akan membahas tentang kisahku dengan Alfa. Tentu saja tidak. Tapi, perjuanganku melepas cinta Alfa.

Beberapa hari setelah insiden pengakuan perselingkuhan Alfa dengan Rahmi, di sekolah terdengar gosip bahwa Alfa balikan sama Rahmi, dan Alfa putus denganku. Bagaimana bisa? Aku sendiri tidak tau. Karena kupikir itu semua hanya gosip, aku pun diam saja tak menanggapi. Tapi selang beberapa hari kemudian, ada sesuatu yang ganjil, Rahmi memakai cincin dari Alfa. Oh Tuhan, Alfa keterlaluan!

Aku bener-bener nggak tau mesti gimana waktu itu. Aku marah sama Alfa, tapi aku masih sangat menyayanginya. Kalau waktu itu kata-kata galau udah ngetrend, mungkin aku bisa bilang, AKU GALAU TINGKAT MALAIKAT. Aku mencoba bertahan aja. Mungkin ini ujian. Aku tak sendiri. Selain teman-teman yang menguatkanku (atau lebih tepatnya mengasihaniku yang bodoh dan buta karena cinta sama Alfa), Allah mengirimiku malaikat kecil bernama Zaza. Jadi, Zaza itu sepupunya si Alfa. Kalo gga salah, mamanya si Zaza ini adeknya papanya Alfa. Kalo gga salah sih... Tau gga si Zaza kelas berapa? 4 SD! Ya, dia masih kelas 4 SD. Tapi sumpah ya, si Zaza ini dewasa banget. Ngalah-ngalahin aku pokoknya.

Mungkin bisa dibilang aku keterlaluan pada saat itu. Ya, aku keterlaluan karena rasa cintaku. Entah, sudah berapa banyak airmata yang kukeluarkan di setiap sujudku, entah berapa pasang telinga yang panas mendengar keluhku yang setiap saat hanya tentang Alfa, Alfa dan Alfa. Terima kasih semua.. Dan maaf, sekarang aku baru menyadari bahwa aku dan kalian jauh lebih berharga dibanding Alfa. Tentu saja. Tapi, dari setiap masalah, kita bisa mengambil hikmahnya bukan?

Hal itu tidak berlangsung sehari dua hari saja. Tapi berbulan-bulan. Aku hidup dalam bayang-bayang Alfa. Aku memilikinya, tapi tidak hatinya. Aku bertahan. Terus saja bertahan. Tanpa tau kapan semuanya akan berakhir. Aku bertahan untuk sesuatu yang sia-sia. Alfa benar-benar menjauhiku. Dengan nyata. Dan kami putus. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Alfa selalu datang kembali. Meskipun setelah itu dia akan pergi. Lagi dan lagi. Hal itu akan berulang. Dan entah kenapa aku rela disakiti. Hanya karna aku tak mau jauh dari Alfa.

Bagaimana dengan Rahmi? Entahlah... Aku tak bisa membencinya saat itu. Aku bahagia karena Alfa bahagia dengan dia. Sungguh, itu yang kurasakan saat itu. Dan perasaan itu yang membuat teman-temanku membenci rasa cintaku ke Alfa. Membenci kebodohanku yang masih saja menunggu Alfa. Tapi sekali dan berulang aku katakan... Ini bukan tentang rasa sakit, tapi tentang pengorbanan dan cinta yang tulus.. Aku bodoh memang, tapi aku wanita berprinsip. Alfa milikku dan akan kembali padaku.

Bolehkah kuselipkan suratku untuk Rahmi yang dulu tak sempat kuberi? Tentu saja. Ini ceritaku.

Untuk Rahmi,

Hai.. Bagaimana perasaanmu memiliki Alfa? Bahagiakah? Semoga iya, karena Alfa sepertinya bahagia denganmu. Tapi, taukah kau? Pernahkah kau berpikir tentang perasaanku? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Kau lebih muda dariku. Pernahkah kau menghargaiku sebagai kakak kelasmu? Umm.. Mungkin tidak. Aku juga tidak minta kau hargai. Tapi yang kuminta saat ini adalah MENGERTILAH... aku mencintai Alfa. Alfa masa depanku. Tak taukah kamu berapa banyak mimpi yang telah kami rajut? Berapa banyak angan yang kami senandungkan? Kami berusaha... Mewujudkan semuanya selagi kami masih merasa muda agar kelak kami bisa bahagia. Tapi kau menghancurkannya.. Taukah kau? Sadarkah kau?

Aku tidak lebih bodoh darimu, aku juga tidak lebih jelek darimu, YA, aku menyombongkan diriku. Dan segala kelebihan yang kumiliki. Dan kau hidup membayangiku. Kau tau? Kau bahkan lebih buruk dari apapun. AKU MARAH! Aku marah karena kau mengambil Alfa dariku. Aku marah karena kau selalu menjadi plagiat diriku. Tak bisakah kau berpikir dengan otakmu sendiri? Jangan gantungkan dirimu padaku. Kau tau kau apa? ORANG KETIGA dan PLAGIAT! Dua hal paling memuakkan dalam hidupku.

Aku bisa apa sekarang? Alfa memilihmu. Jadi berbanggalah, kali ini kau menang. Tapi tidak lain kali. Ingat Rahmi, ALLAH tidak buta dan Ia melihat dengan nyata. Segala sesuatu telah Ia rencanakan. Mungkin ini jalan yang paling baik untukku. Dan semoga untukmu. Tapi kau harus tau, SUNNATULLAH itu masih berlaku!

salam,

nura

Surat itu tak sempat kukirimkan dulu. Karena Allah selalu menjaga kesabaranku melalui perantara malaikat kecilNya, Zaza :)

Alfa masih bersamaku. Setidaknya untuk beberapa bulan kemudian. Bahkan kami pun sempat menjalani LDR. Tapi Alfa tetaplah Alfa, lagi-lagi dia menyakitiku. Dengan gadis berbeda, bernama Zila. Sudahlah, mungkin ini teguran dari Allah untukku. Agar melepas Alfa. Dan aku melepasnya..

***

Sekarang..

Saat hidupku menjadi normal.
Saat dengan mudahnya aku jatuh cinta setiap harinya dengan laki-laki yang menyadarkanku tentang hidup dan mencitai Khaliq dan pemberian-Nya.
Saatnya aku siap menceritakan kisahku pada kalian.
Tentang pahitnya mencinta.
Kau mungkin iri dengan lelakiku yang sekarang, tapi ketahuilah, perjalanan hidupku tak selalu beruntung.
Allah memberiku dia setelah sebelumnya Allah mengujiku dengan laki-laki tak setia.
Kalian tau rasanya, kawan?
Segalanya menjadi lega karena aku telah melepaskan semua.
Semua rasa, semua luka, dengan memaafkannya.
Aku tidak akan membencinya, karena batas antara cinta dan benci itu sangat tipis.
Bukan aku takut mencintai masa laluku lagi, tapi rasanya.. Keledaipun tak mau jatuh di lubang yang sama bukan?
Begitu juga aku.
Aku menulis ini juga bukan karena apa-apa.
Aku hanya ingin berbagi kisahku.
Sedikit saja.
Karena aku tau banyak tentang orang ketiga dan plagiat.
Rasanya sakit.
Tentu saja.
Tapi aku belajar dan terus belajar.
Semoga ini semua bisa menjadi pengalaman yang membuatku jauuuuuh lebih kuat.
Terima kasih untuk-Mu untuk rencana indah setelah kejadian ini.
Terima kasih untuk Zaza yang tak henti-hentinya mengingatkan padaku kalau kesabaran itu pahit, tapi manis buahnya.
Terima kasih untuk teman-teman yang selalu saja kujadikan kalian tumpahan segala rasa ini.
Terima kasih untuk Rahmi, yang mengajarkan rasa sakit, dan keikhlasan. Tapi tolong, cukup itu saja yang kau ambil. Belajarlah hidup dengan caramu...

dan tentu saja, terima kasih untukmu sayang, yang sampai hari ini mencurahkan seluruh perasaannya hanya dan hanya kepadaku. Semoga selalu seperti itu. Aku memilikimu, juga hatimu. Dan denganmu, akan kulangkahkan kaki ini menuju masa depan yang sudah di depan mata. Love you, Imam Bahruddin :*

5 comments:

  1. Sorry aku lebay, aku NANGIS !!! Inget masa2 mu ini !!

    ReplyDelete
  2. mbak nano: hehee.. kenapa mbak?

    sibul: hahahaa... sudah bukan waktunya :) yang ada senyuman kebahagiaan menatap masa depan dengan laki-laki yang jauuuuuuuuh lebih baik. dan setidaknya menerimaku apa adanya :) everything happen for a reason :)

    ReplyDelete
  3. Yah, i knew right, and i learned from it too.

    ReplyDelete
  4. gak tau, dredeg pkoknya, hahaha ..

    ReplyDelete