another part

Saturday, October 8, 2011

Ia Mencintaiku seperti Matahari Mencintai Bumi

Terkadang, dari sekian banyak pilihan yang ada
Marah, membantah, lari ataupun pergi
Pilihan yang terbaik adalah menerima itu semua
Biar yang harusnya terjadi tetap terjadi
Apapun itu, tetaplah takdir yang harus kujalani
Tentu saja itu jawaban, balasan, ganjaran, karma
Dari apa-apa yang telah aku lakukan
Dan hari ini, aku sampai pada titik terendah dalam hidupku
Hanya dalam waktu sehari!
Dan takdir telah menjungkir balikkan roda kehidupanku
Aku ingin ini semua hanya mimpi
Yang akan hilang saat kubuka mata esok hari
Seolah tak terjadi apa-apa
Tapi, saat kubuka mata tadi pagi
Dadaku terasa amat sesak, dan sakit itu tetap ada
Tuhan, lindungi aku, sembunyikan aku..
Aku terlampau takut
Aku takut untuk sesuatu yang kutahu akan terjadi
Aku takut akan takdirku sendiri
Dan waktu seakan tak mau tahu, tak mau mengerti
Waktu terus mengejarku, entah sampai kapan
Aku ingin semua ini cepat berlalu, berakhir
Dan hidupku kembali seperti biasa
Aku ingin melanjutkan kisahku, Tuhan..
***
Belum senja. Ketika ia datang dan mendapati gadisnya terdiam. Rautnya kelam menampakkan duka yang mendalam. Ah, dia telah banyak berubah. Mungkin begitu pikirnya. Sedangkan sang gadis tetap berdiri di tempatnya. Tak jauh dari laki-laki yang baru saja datang. Ia tak berkutik. Malu pada laki-laki dan seluruh mata di ruangan itu. Mata-mata itu melihatnya. Menusuk tajam bagaikan bangkai yang hina. Mereka lupa jika gadis itu hidup, bernyawa dan bisa merasa. Hanya sepasang mata yang menatapnya dengan berbeda. Sepasang mata milik laki-laki yang penuh cinta. Tapi kini gadis itu ragu. Masihkah laki-laki itu mencintainya seperti dulu?
***
Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit.
(Aristoteles)
            Ia terluka dalam. Aku tahu itu. Kali ini gadisnya sudah keterlaluan. Bahkan mungkin tak termaafkan. Tapi ia bukan tuhan. Ia tak bisa menghukum gadisnya. Karena ia yakin, gadisnya punya alasan. Entah apa itu. Tapi ia tetaplah manusia biasa. Kali ini ia benar-benar marah. Tampak sekali dari rautnya yang merah. Aku takut. Sungguh! Aku gadis itu. Aku gadisnya. Aku gadis yang telah menyakitinya, melukainya, membuatnya kecewa. Andai saja waktu itu aku mendengar kata-katanya. Mungkin tak begini jadinya. Matanya berkaca-kaca. Ia tak pernah seperti ini. Aku mengenalnya. Menangis bukanlah karakternya. Tapi marah, membenci, dan menghina juga bukan dirinya. Ah, ia terlalu sempurna untuk kusakiti. Kenapa aku setega ini, Tuhan?
            Ia menatapku. Lagi-lagi tatapan itu. Aku menunduk. Menangis dalam diam. Maaf, hanya itu yang kuucap berkali-kali. Meskipun kutahu itu tak berarti.
“Kenapa nak? Kenapa kamu lakukan ini?” pertanyaannya menusuk merasuk.
“Tahukah kamu? Hati ayah sakit, sakit sekali, entah apa rasanya. Kecewa, marah, dan sedih menjadi satu. Ayah terluka nak.. Ayah kecewa melihat anak ayah seperti ini. Apakah kamu sudah tak menganggap ayah lagi?” hatiku terkoyak mendengarnya. Maafkan aku, Ayah.
“Jangan berkata seperti itu, Yah. Saya masih mengormati Ayah.” Kataku terisak.
“Tapi kenapa kamu lakukan semua ini? Berapa kali harus Ayah bilang, kamu baik-baik disini. Jangan bikin masalah!” nadanya meninggi. Aku semakin terisak.
“Maaf, mungkin Ayah belum bisa menjadi ayah yang kamu inginkan. Tapi selama ini Ayah selalu berusaha untuk memberi yang terbaik untuk kamu. Tapi kenapa kamu seperti ini? Ayah ingin, di hari tua Ayah, Ayah hidup tenang. Melihat anak ayah sukses. Tapi, kenapa..” ayah menggantung kalimatnya. Matanya berkaca-kaca. Ayah, maaf.. Maaf..
            Beberapa menit. Hanya beberapa menit saja setelah kata-kata itu ia ucapkan. Ia sudah mereda. Sungguh, ia orang yang paling pemaaf di dunia ini. Padahal, mungkin ialah yang paling sering terluka karena sikapku. Tapi ia tetaplah ia. Ia mencintaiku dengan sederhana, tanpa pamrih, tanpa mengharap apa-apa. Ia mendengarku, tidak menuntutku. Ia memberiku contoh, tidak mendikteku. Meskipun darahnya tak mengalir dalam darahku, meskipun nadinya tak berdenyut di nadiku, tapi sungguh semua itu tak pernah mengurangi kadar cintanya terhadapku. Aku tahu itu meski ia tak pernah mengatakannya. Dialah laki-laki yang paling mencintaiku di dunia ini. Apa adanya.
***
            Hari itu, ia datang ke sekolah. Menghadiri panggilan dari pimpinan sekolahku. Aku membuat masalah. Tidak kecil. Ini menyangkut namaku, nama keluargaku. Aku membuat malu semuanya. Sungguh, kala itu aku begitu merasa hina. Bahkan, beberapa guru di sekolah memandangku nista. Walau hanya beberapa. Di depanku mereka terlihat biasa saja. Tapi entah apa yang dibicarakannya di belakangku. Banyak sekali teguran untukku saat itu. Untung saja, Allah masih menyayangiku. Beberapa orang lainnya masih menguatkanku.
            Ayah. Satu-satunya yang terhebat. Ia kusakiti, tapi ia tetap mengasihi. Walaupun ia mendapat laporan yang menyakitkan tentangku. Tapi ia tak langsung percaya. Ia mendengar tak hanya dari satu mulut saja. Bahkan, ia mendengarku juga. Meskipun seringkali aku membohonginya, tapi kali ini aku berkata apa adanya. Tentang seorang pria lain yang kucinta.
            Waktu itu aku ingin marah. Kepada orang-orang yang mencaciku di belakang. Satu waktu mereka mengajariku hal-hal baik. Tapi, waktu lain mereka mengucilkanku. Aku kalap saat itu. Tapi aku ingat ayahku. Ia telah berkorban banyak hal untukku. Untuk apa aku menambah masalah? Toh waktu itu aku sudah kalah. Aku hanya perlu bersabar. Mereka juga manusia. Sama sepertiku dan ayah. Semua orang berbuat salah. Aku berbuat salah dan kalah.
            Satu-satunya alasan yang membuatku bertahan adalah ayah. Aku belum bisa membahagiakannya. Aku belum bisa membuatnya bangga. Aku tak ingin diam begini saja. Aku harus bangkit. Menata kembali hidupku dan menyusun kembali potongan-potongan puzzle yang belum selesai. Aku mencintai hidupku. Terlebih orang-orang yang mencintaiku.

Ayah..
Selama 17 tahun saya hidup
Tak sekalipun saya bisa membahagiakan ayah
Meski saya berulang kali mencoba
Tapi yang terjadi adalah selalu sebaliknya
Saya menghancurkan perasaan ayah, mengecewakan ayah
Selalu seperti itu
Maaf.. Selalu hanya sebatas kata ini yang saya ucap
Entah berapa kali
Yang saya tahu, kata itu mudah saya ucapkan, lalu
Saya melanggar janji saya, saya hancurkan semuanya!
Hati ayah, perasaan ayah, bahkan harapan ayah
Maaf ayah, maaf tuhan..
Saya seringkali lukai orang-orang yang mencintai saya
Terutama ayah..

No comments:

Post a Comment